Mencoba Google Lens, versi cerdas dari Google Goggles

Google Lens

Pada mulanya Google Lens hanya tersedia untuk Google Pixel saja, lalu kemudian Google meluncurkan Google Lens ke lebih banyak perangkat, dan salah satunya adalah smartphone saya saat ini, Xiaomi Mi A1.

Sebenarnya fitur Google Lens sudah “ada” resmi di smartphone ini sejak sekitaran 2-3 bulan lalu, tapi fiturnya hanya bisa diakses dari Google Photos saja. Waktu itu saya kaget saat melihat ikon Google Lens saat membuka sebuah foto dari Photos, dan pada saat di-tap ternyata berfungsi. Nah beberapa minggu kemudian ternyata Google meluncurkan Google Lens secara luas dalam bentuk aplikasi tersendiri alias standalone app yang bisa di-download di Google Play Store. Kira-kira miriplah dengan Google Assistant yang dibuatkan versi standalone-nya.

Setelah meng-install Google Lens dari Google Play Store, ternyata aplikasinya tidak bisa digunakan. Lebih tepatnya, belum bisa digunakan karena ada pesan bahwa perangkat saya tidak kompatibel. Anehnya, dua hari kemudian muncul pesan yang berbeda dengan yang pertama, saya disuruh menunggu selama beberapa hari sebelum Google Lens bisa digunakan. Akhirnya, sehari kemudian aplikasinya berjalan dengan sukses juga (setelah meng-update Google app terlebih dahulu), dan ikon Google Lens juga sudah muncul di kanan-bawah pada Google Assistant.

Secara garis besar Google Lens mirip dengan Google Goggles, sama-sama merupakan aplikasi pengenal objek. Bisa dibilang kalau Lens adalah versi rebuild dari Goggles dengan tambahan AI/ML.

Perbedaan mendasar antara Lens dan Goggles selain dari sisi AI/ML adalah Google Lens bekerja secara real time, sedangkan Google Goggles tidak, pada Google Goggles pengguna harus mengambil foto terlebih dahulu lalu dilanjutkan dengan proses scanning.

Jadi, bagaimana kesan-kesan menggunakan aplikasi cerdas yang dulunya ekslusif di Google Pixel ini? Well… cukup exited sih, pada awalnya. Saya langsung sibuk shoot sana sini buat nge-tes kecerdasan Google Lens mengenali objek, apalagi ada animasinya yang fancy.

Beberapa hal yang saya sukai adalah kita bisa langsung menyimpan nomor kontak (dan detail lain) dari sebuah kartu nama, bisa jadi barcode scanner juga jadi kita tidak perlu aplikasi tambahan lagi, dan yang paling penting adalah fitur text selection, fitur yang paling saya sukai dan yang paling sering saya gunakan di Now on Tap dulu. Sekarang Google membawanya kembali di Assistant tapi sayangnya implementasi tidak sebaik di Now on Tap, menurut saya.

Proses pengenalan objek di Google Lens cukup cepat menurut saya, real time dan juga cepat. Plus, ada “Anchor Points” yaitu bulatan berwarna di layar yang muncul secara otomatis yang bisa di-tap untuk menganalisa objek secara spesifik.

Satu hal yang saya perhatikan sewaktu mencoba-coba Google Lens untuk mengenali beberapa objek adalah Google Lens cukup (bahkan sangat) bergantung pada teks yang ada pada objek tersebut. Sebagai contoh, saya beberapa kali mencoba Google Lens pada Nescafe Classic 100g (toples, model seperti ini), tapi informasi yang muncul malah Nescafe Classic yang sachet. Modelnya jelas berbeda, yang sama hanya pada tulisan “Nescafe Classic” di depannya saja. Kalau tulisannya ditutupi Google Lens akan kebingungan dan hanya akan memberikan info dasar seperti “instant”, “instant coffee”, “coffee” atau “Nestle” saja. Oh ya, saya juga mencoba Google Lens ke mouse wireless saya, dan hasil yang paling mendekati adalah “Looks like … electronic device?” dan yang paling jauh adalah “… insects?” haha thumb down Google!

Google Lens bekerja lebih akurat pada objek yang kebanyakan teksnya, contohnya seperti buku. Google Lens bisa mengekstrak informasi dari kumpulan teks dan menampilkan informasi yang relevan, misalnya pada contoh gambar di atas. Sepertinya teks lebih diprioritaskan dalam proses analisa Google Lens dibandingkan bentuk, model atau warna objek itu sendiri.

Untuk saat ini sepertinya Google Lens sudah cukup OK, hanya saya pakai kalau mau fun saja. Mengambil data dari kartu nama sangat bermanfaat, tapi saya jarang menerima kartu nama, apalagi scanning barcode. Mengidentifikasi objek atau produk sebenarnya jarang juga, kecuali mau langsung beli, karena sepertinya Google (Lens) berpikir kalau ada produk yang di-scan maka kita mau beli produk tersebut. Mengidentifikasi landmark? Lukisan? Juga jarang. Show off ke perangkat lain? Mungkin.

Ya, Google Lens memang belum sempurna, masih sering salah. Tapi saya pikir dengan mengandalkan AI dan ML, Google Lens akan bertambah baik seiring dengan waktu dan semakin banyaknya pengguna (baca: perangkat yang didukung). Kalau Anda mencoba Google Lens dan ada yang salah, silakan berikan masukannya dengan jempol (atau “Like/Dislike”? ya) biar Google terus meningkatkan kemampuan Google Lens dan Assistant.

Update

Pengembangan Google Goggles akhirnya resmi dihentikan oleh Google, digantikan oleh Google Lens. Pengguna yang ingin meng-install Google Goggles akan langsung diarahkan ke Google Lens.

Jadi, bagi yang belum tahu soal berita soal Google Goggles dan ingin meng-install-nya tapi tidak lagi menemukannya di Google Play Store, jangan heran karena memang aplikasinya sudah ditarik oleh Google.

Google Goggles

Bye, Goggles!

Google Lens
Google Lens
Developer: Google LLC
Price: Free
Referensi: https://blog.google/products/google-vr/google-lens-real-time-answers-questions-about-world-around-you/ https://9to5google.com/2018/05/23/real-time-google-lens-rolling-out/

You may also like...